Monday, 12 May 2008

Gatotkaca

Gatotkaca atau Gatutkaca (Sanskerta: घटोत्कच; ejaan: Ghaṭotkacha) adalah seorang tokoh dalam wiracaritaMahabharata. Ia adalah putera Bima (Werkodara) dan Hidimbi. Karena menurun dari wujud ibunya, maka separuh badannya merupakan raksasa, yang mana hal ini banyak memberi kesaktian dan membuat dirinya menjadi seorang kesatria penting di Kurukshetra pada saat terjadinya Bharatayuddha.Arti nama

Dalam bahasa Sanskerta, nama Ghatotkacha secara harfiah berarti "memiliki kepala seperti kendi". Nama ini terdiri dari dua kata Sanskerta, yaitu ghaṭ(tt)am yang berarti "buli-buli" atau "kendi", dan utkacha yang berarti "kepala". Nama ini diberikan kepadanya karena sewaktu lahir kepalanya dianggap mirip dengan buli-buli atau kendi.

Keluarga

Gatotkaca adalah putera dari Bima dan Hidimbi. Ia menikah dengan Ahilawati dan memiliki anak bernama Barbarika. Dari pernikahannya dengan Dewi Pergiwa, ia memiliki seorang putera bernama Sasikirana. Cerita pernikahan antara Gatotkaca dengan Pergiwa sangat dikenal dalam cerita wayang dengan lakon Gatotkaca gandrung (masa jatuh cinta dari Gatotkaca).

[sunting] Gatotkaca dalam budaya pewayangan Jawa

Dalam khazanah pewayangan Jawa Baru, tokoh Gatotkaca juga sangat populer. Gatotkaca dikatakan bahwa ia memiliki kesaktian yang sanggup terbang dan mempunyai otot kawat bajatulang besi. Nama lain Gatotkaca yang juga populer dalam khazanah sastra Jawa Baru dan adalah Tutuka atau Tetuka.

Gatotkaca mempunyai pusaka berupa Keris Kalanadhah yang didapat dari pamannya, Arjuna. Selain itu, pakaiannya merupakan pemberian dari para Dewa, antara lain pakaian Caping Basunandha (tidak akan kehujanan ataupun kepanasan), pakaian Kotang Antakusuma (bisa terbang), dan Terompah (sandal) Prabakacerma (tidak akan terganggu jika melalui jalan atau tempat yang angker).

[sunting] Masa kecil

Sosok Gatotkaca (kiri) dan Abimanyu (sedang memanah) dalam sebuah lukisan tradisional dari Maharashtra, dibuat sekitar abad ke-19.
Sosok Gatotkaca (kiri) dan AbimanyuMaharashtra, dibuat sekitar abad ke-19. (sedang memanah) dalam sebuah lukisan tradisional dari

Pada masa kecil Gatotkaca, yang bernama Bambang Tetuka sudah memiliki kekuatan luar biasa yakni tali pusarnya tidak bisa dipotong dengan senjata apapun, bahkan dengan Cakram milik Kresna dan Pulanggeni milik Arjuna juga tidak mempan. Konon hanya satu senjata yang bisa memotong yakni Kuntawijayadanu yang akan diturunkan oleh Dewa kepada Arjuna. Kuntawijayadanu dicuri oleh Suryatmaja (alias Karna semasa muda). Arjuna dapat merebut Warangka Kuntawijayadanu, setelah perang tanding dengan Suryatmaja. Dengan Warangka itu pusar Tetuka dapat dipotong. Setelah pusarnya dipotong maka Bambang Tetuka dijadikan jagoan oleh para Dewa untuk menghadapi penggempur kahyangan, yakni Patih Sekipu Mantra. Gatotkaca lalu dimasukkan oleh Bhatara Narada ke kawah Candradimuka bersama dengan berbagai pusaka baja kahyangan, sehingga saat keluar dari kawah Candradimuka, Gatotkaca kecil (Bambang Tetuka) yang tadinya masih berwujud raksasa menjadi kesatria yang gagah perkasa. Dari sinilah, kemudian, Gatotkaca menjadi berotot kawat dan bertulang besi. Gatotkaca juga diberi berbagai macam pusaka serta diberi nama "Raden Krincing Wesi" (nama Gatotkaca pun di peroleh dari sini, sebagai pemberian dari Dewa).

Raden Gatotkaca lalu menjadi raja menggantikan ibunya di negara Pringgandani. Negara ini kemudian menjadi bagian dari negara Amarta atau Indraprastha, dan Raden Krincing Wesi ini mengambil gelar "Prabu Anom Gathutkaca".

Masa dewasa

Gatotkaca memiliki beberapa ajian, di antaranya: Aji Narantaka, Aji Brajadenta, Aji Brajamusti. Aji Brajadenta dan Brajamusti didapatkan setelah mengalahkan Brajadenta dan Brajamusti dalam lakon pewayangan "Brojodento Mbalelo", sedangkan Aji Narantaka didapatkan dengan beguru kepada Resi Seta. Selain itu, dia menjadi penanggung jawab keamanan udara di Indraprastha, karena kemampuannya yang bisa terbang. Di angkasa, Gatotkaca mempunyai markas yang disebut Mega Malang (awan yang melintang).

Gatotkaca mempunyai kendaraan berupa burung bernama Wilmuka (yang dulu ketika masih kecil ditaruh di atas kepala pangeran Palasara saat sedang bertapa), dan seekor burung lagi yang bernama Arimuka yang dimiliki oleh Prabu Narakasura yang secara kebetulan juga menjadi musuh bebuyutan dari Gatotkaca.

Pada masa dewasanya Gatotkaca memperistri Dewi Pergiwa, dan terpilih menjadi senapati Indraprastha pada perang Bharatayuddha, dan setelah menerima wahyu Jayaningrat serta Topeng Waja.

Bharatayuddha

Gatotkaca dalam bentuk asli wayang kulit dengan hiasan/pahatan berwarna.
Gatotkaca dalam bentuk asli wayang kulit dengan hiasan/pahatan berwarna.

Dalam cerita wayang dengan nama lakon "Gathotkaca Gugur", pada saat perang Bharatayuddha, diceritakan bahwa Adipati Karna (dari keluarga Hastinapura) berangkat perang pada waktu malam hari, dan hanya Gatotkaca yang dianggap bisa menandinginya, karena dada Gatotkaca bisa bersinar akibat kekuatan Kotang Antakusuma (baju yang dimilikinya). Namun, akhirnya Gatotkaca kalah dalam perang melawan Adipati Karna, karena Adipati Karna memiliki Pusaka ampuh bernama Kuntawijayadanu. Warangka dari pusaka Kuntawijayadanu ini masih tertanam di pusar Raden Gatotkaca sendiri, sejak dia lahir (yang waktu itu dipakai untuk mengiris tali pusarnya). Sebenarnya pusaka atau senjata Kuntawijayandanu ini tidak sampai menyentuh ke tubuh Gatotkaca, tetapi Kalabendana (roh paman Gatotkaca) membawa senjata ini sampai ke pusar Gatotkaca (sebagai balas dendam karena dahulu Gatotkaca telah membunuhnya).

Sebelum mati Gatotkaca mempunyai permintaan, yaitu bersedia mati tetapi harus diganti dengan kematian dari seribu prajurit musuh. Tubuh Gatotkaca lalu jatuh dari angkasa karena terkena pusaka Kuntawijayandanu tersebut, dan tepat mengenai kereta Adipati Karna. Sebagai akibatnya, pecahan kereta ini mencederai seribu prajurit Hastinapura sehingga semuanya tewas seketika.

No comments: